Artikel tentang Problematika Pembelajaran Menulis Permulaan
Problematika Pembelajaran Menulis
Permulaan
Di Kelas 1 MI Al Ittihadul
Islamiyah Ampenan
Annisa
Yunita Rizqi
Program
Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Fakultas
Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Mataram
E-mail:
annisayunita1122@gmail.com
Abstrak
Menulis permulaan
penting diajarkan kepada peserta didik pada kelas awal sekolah dasar agar siswa
tidak kesusahan dalam berkomunikasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh
informasi terkait pembelajaran dan menemukan permasalahan yang terjadi dalam
pembelajaran menulis permulaan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini,
yaitu kualitatif dengan metode penelitian deskriptif. Pada penelitian ini
teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi.
Penelitian ini memperoleh hasil yaitu terdapat problematika dalam mengajarkan
menulis permulaan. Dimulai dari siswa yang tidak tau huruf, belum bisa membaca
sehingga menjadi perhatian bagi guru. Mengatur siswa agar mau focus saat
diajarkan menulis menjadi tantangan sendiri bagi guru, belum lagi ada siswa
yang cepat merasa bosan jika terus belajar. Banyaknya siswa yang belum bisa
menulis daripada yang sudah bisa membuat guru harus mengajarkan menulis satu
persatu pada tiap siswa. Hal ini menimbulkan masalah baru yaitu masalah waktu,
guru tidak memungkinkan mengajarkan satu persatu siswa saat jam pembelajaran
sehingga harus mengambil waktu pada jam istirahat atau di jam pulang sekolah. Tetapi
semua masalah ini bisa diatasi dengan beberapa solusi yang diberikan guru,
salah satunya yaitu menggunakan modul khusus saat mengajarkan siswanya yang
belum bisa membaca dan menulis. Modul ini dibuat sendiri oleh guru sehingga
sangat efektif penggunannya dalam membantu siswa belajar menulis.
Kata Kunci: Problematika, Menulis Permulaan,
Sekolah Dasar
Pendahuluan
Bahasa
merupakan alat komunikasi baik lisan, gerakan maupun tulisan, yang mampu
dimengerti orang lain dan mampu menjadi media dalam pertukaran pikiran, wawasan
dan perasaan dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Bahasa memiliki peran
sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswa. Ini
berarti setiap manusia dituntut terampil dalam menggunakan bahasa (Nyoman
Suastika, 2018).
Menurut
Hurlock dalam Alex Sobur (2003:133), perkembangan awal lebih penting daripada
perkembangan selanjutnya, karena dasar awal sangat dipengaruhi oleh belajar dan
pengalaman. Perkembangan bahasa untuk anak usia dini meliputi empat
pengembangan yaitu menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Pengembangan
tersebut harus dilakukan seimbang agar memperoleh perkembangan yang optimal. Kemampuan
berbahasa anak akan berkembang seiring dengan perkembangan mental dan kognitif
anak. Kemampuan
menyimak dan kemampuan berbicara merupakan kemampuan berbahasa lisan sedangkan
kemampuan membaca dan kemampuan menulis merupakan kemampuan berbahasa tertulis.
Menulis
merupakan kegiatan kebahasaan yang memegang peran penting dalam dinamika peradaban manusia. Dengan menulis orang dapat melakukan komunikasi,
mengemukakan gagasan baik dari dalam maupun luar dirinya, dan mampu memperkaya
pengalamannya. Melalui kegiatan menulis pula orang dapat mengambil manfaat bagi perkembangan
dirinya.
Menurut
Rusyana (Ahmad Susanto, 2014: 247) menulis merupakan kemampuan menggunakan
pola-pola bahasa dalam penyampaiannya secara tertulis untuk mengungkapkan
gagasan atau pesan. Kemampuan menulis berguna bagi siswa bukan hanya untuk
mencatat dan mengerjakan tugas-tugas sekolah namun juga sebagai cara untuk
mengekspresikan ide dan sarana komunikasi. Tanpa memiliki keterampilan menulis,
siswa akan mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas sekolah, menyampaikan
ide-idenya dan kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain yang juga akan
mempengaruhi kemampuan untuk berinteraksi sebagaimana kemampuan menulis berguna
untuk menulis surat, pesan, dan lainnya (Nuraini, 2017).
Menulis
permulaan adalah program pembelajaran yang diorientasikan kepada kemampuan
menulis permulaan di kelas-kelas awal pada saat anak-anak mulai memasuki bangku
sekolah. Menulis permulaan merupakan dasar pengajaran yang pertama kali di
jarkan guru kepada anak kelas satu.keterampilan pembelajaran menulis
permulaan disajikan bersama dengan membaca permulaan sehingga sering di sebut dengan
MMP (Membaca dan Menulis Permulaan).
MMP
merupakan kependekan dari Membaca Menulis Permulaan. Sesuai dengan
kepanjangannya itu, MMP merupakan program pembelajaran yang diorientasikan
kepada kemampuan membaca dan menulis permulaan di kelas-kelas awal pada saat
anak-anak mulai memasuki bangku sekolah. Pada tahap awal anak memasuki bangku
sekolah di kelas 1 sekolah dasar, MMP merupakan menu utama. Kemampuan
menulis permulaan tidak jauh berbeda dengan kemampuan membaca permulaan. Pada
tingkat permulaan, pembelajaran menulis lebih diorientasikan pada kemampuan
yang bersifat mekanik. Anak-anak dilatih untuk dapat menuliskan (mirip dengan
kemampuan melukis atau menggambar) lambang-lambang tulis yang jika dirangkaikan
dalam sebuah struktur, lambang-lambang itu menjadi bermakna.
Menurut
Pramestuti (2010), menulis
permulaan dilaksanakan secara
bertahap, mulai dari
mengajarkan sikap dan
cara memegang pensil dengan
benar dan dilanjutkan
dengan berbagai latihan
menulis lainnya. Latihan
menulis permulaan juga bisa
dilakukan dengan menggoreskan pensil
secara miring, tegak,
datar, dan membentuk lingkaran. Pembelajaran menulis
permulaan memperkenalkan tulisan
dengan huruf kecil
dan mengakhirkan pengenalan huruf
kapital. Dalam pelaksanaan
pembelajaran menulis permulaan ada hal
yang perlu diperhatikan yaitu tidak memaksa
anak atau siswa, karena akan
membuat anak atau siswa merasa di bawah tekanan dan akhirnya kegiatan menulis
dianggap sebagai kegiatan yang membosankan. Dunia anak adalah bermain, sehingga
belajar dapat disiasati dengan pembelajaran
edukatif (Aeni, 2011).
Pada
umumnya tujuan dari penulisan permulaan ini adalah mengajarkan anak menulis
anak bisa menulis dengan benar.Namun dalam menulis permulaan ini bisanya
dilaksanakan setelah atau bersamaan dengan belajar membaca permulaan pada anak
kelas satu. Karena anak yang bisa membaca akan mempermudah pembelajaran anak
dalam menulis permulaan. Seperti
halnya membaca permulaan, menulis permulaan juga dapat menggunakan
metode-metode seperti metode abjad, metode suku kata, metode global dan metode
SAS. Menulis permulaan (dengan huruf kecil) di kelas 1 SD tujuannya adalah agar
siswa memahami cara menulis permulaan dengan ejaan yang benar dan
mengkomunikasikan ide atau pesan secara tertulis.
Kemampuan
menulis tidak diperoleh secara alamiah, melainkan melalui proses pembelajaran
yang sebagian merupakan tanggung jawab guru. Dalam hal ini, guru dituntut dapat
membantu dalam mengembangkan kemampuan menulis siswa. Oleh karena itu kemampuan
menulis ini sangat pentimg dimiliki oleh siswa karena keberhasilan siswa dalam
menguasai berbagai teknik menulis memiliki konstribusi yang sangat besar
terhadap perkembangan kemampuan yang lain. Namun pada kenyataannya terdapat
berbagai masalah atau problematika terkait dengan proses menulis permulaan di
sekolah dasar. Hal ini tidak boleh dibiarkan terjadi terus-menerus, diperlukan
berbagai upaya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Melihat hal tersebut, maka
penting untuk dibahas terkait problematika pembelajaran menulis permulaan di
sekolah dasar dan upaya untuk mengatasinya.
Metode
Penelitian
Pendekatan
kualitatif merupakan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini dengan metode penelitian deskriptif. Teknik
pengumpulan data yang digunakan diantaranya, yaitu wawancara, observasi, dan
dokumentasi. Maka instrument pada penelitian ini yaitu pedoman wawancara, alat perekam, kamera serta alat
tulis. Penelitian kualitatif menjadi suatu cara untuk menjelajahi dan memahami
suatu individu-kelompok untuk menanggapi permasalahan sosial maupun manusia.
Penelitian
ini dilaksanakan di sebuah sekolah yaitu di MI Al Ittihadul Islamiyah Ampenan,
Mataram, Lombok. Pengambilan tempat di sekolah ini dikarenakan peneliti sudah
beberapa kali pernah mengunjungi sekolah ini untuk melaksanakan tugas lain
sehingga kurang lebihnya peneliti tau masalah apa yang terdapat di sekolah
tersebut. Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah 23 orang
siswa kelas 1, juga narasumber utama yaitu Ibu Aminah, S.Pdi selaku guru Bahasa
Indonesia sekaligus wali kelas 1B.
Hasil
dan Pembahasan
Dari
wawancara yang telah dilakukan dengan narasumber, yaitu Ibu Aminah ditemukan
beberapa masalah pembelajaran menulis permulaan. Pada saat masuk sekolah dasar
diharapkan paling tidak siswa sudah hafal diluar kepala huruf abjad, tapi pada
kenyataannya masih ada siswa yang belum hafal bahkan belum tau huruf abjad. Hal
itulah yang menjadi salah satu masalah dalam menulis permulaan, bahkan ada
siswa yang belum bisa memegang pensil. Bagaimana mereka bisa menulis jika
memegang pensil saja belum bisa.
Di
kelas 1B ini terdapat 23 siswa, dengan siswa laki laki 13 orang dan perempuan
10 orang. Diantara 23 siswa hanya 7 siswa yang baru bisa membaca dan menulis ,
sisanya masih belum bisa. Hal ini menjadi perhatian bagi guru karena ia harus
mengajarkan lagi dari awal tentang huruf huruf, dan itu tidak mudah karena
lebih banyak siswa yang tidak bisa membaca dan menulis ketimbang yang bisa. Mengatur
banyak siswa agar mau fokus saat belajar jadi tantangan tersendiri bagi guru,
siswa siswa di kelas 1 ini kebanyakan inginnya bermain seperti saat masih di TK
ketimbang belajar. Belum lagi beberapa siswa sering merasa bosan jika harus
belajar terus sehingga susah untuk diatur.
Banyaknya
siswa yang belum bisa menulis ketimbang yang sudah bisa membuat guru jadi
bekerja extra dalam mengajarkan satu persatu ke siswanya. Hal ini menimbulkan
masalah baru yaitu masalah waktu, tidak memungkinkan jika guru mengajar satu
persatu pada saat jam pelajaran sehingga harus mengambil waktu pada jam
istirahat atau di jam pulang sekolah. Baik guru maupun siswa jadi mengorbankan
waktu mereka untuk belajar, yang seharusnya mereka bisa beristirahat malah
mendapat pelajaran.
Keinginan
guru agar semua siswanya bisa membaca dan menulis sangatlah besar, karena
dengan bisa membaca dan menulis mereka bisa dimudahkan dalam hal mengerjakan pr
atau dalam berkomunikasi. Maka dari itu ada beberapa solusi yang diberikan guru
agar kegiatan pembelajaran tetap lancar terlaksana. Solusi pertama tentu saja
yaitu memberikan tambahan waktu belajar pada siswa yang belum bisa menulis,
dalam hal ini tentu didampingi oleh guru. Dalam hal ini secara tidak langsung
guru juga harus melancarkan siswanya membaca agar bisa menulis.
Awal
awal guru mengajarkan cara memegang pensil yang benar dulu, jari mana yang
seharusnya memegang pensil lalu mulai latihan menulis di buku. Pertama menulis
pasti tulisan tidak jelas dan tidak bisa dibaca, perlu latihan terus menerus
sampai siswa akhirnya bisa menulis. Untuk menopang pembelajaran menulis, Bu
Aminah mempunyai modul sendiri yang isinya disesuaikan dengan kemampuan
siswanya.
Modul ini dapat
digunakan untuk belajar membaca dan menulis. Guru biasanya akan menyuruh anak
membaca kata kata yang ada lalu nantinya siswa menulis kata tersebut di dalam
bukunya. Ada juga buku Tema yang isinya huruf berupa strip strip untuk membuat
siswa nantinya gampang meraba bentuk hurufnya.
Gambar
1. Modul Pembelajaran
Setelah
mengajarkan semua siswanya menulis, guru akan memberikan latihan untuk
mengetahui seberapa paham siswa tentang yang sudah diajarkan. Dari latihan
tersebut dapat dilihat 20% siswa sudah bisa menulis kata dengan benar walaupun
tulisannya masih tidak beraturan, sedangkan sisanya masih bingung harus menulis
huruf apa.Untuk siswa yang belum bisa guru akan melatihnya lagi dengan sering
sering menulis, guru juga memberikan pr untuk menulis beberapa kata dirumah
agar bisa cepat lancar.
Beberapa minggu belajar menulis guru memberikan latihan lagi, hasilnya 80% siswanya sudah bisa menulis beberapa kata dengan lancar. Meskipun begitu masih ada siswa yang belum lancar dan perlu latihan yang lebih keras. Dalam hal ini motivasi dari guru sangat diperlukan, anak yang belum lancar biasanya akan minder atau malu dengan temannya yang sudah bisa. Perlu ditekankan belum bisa bukan berarti kamu bodoh hanya saja perlu latihan yang sering. Bu Aminah sering kali mengatakan bahwa tidak ada anak yang bodoh hanya perlu sering belajar untuk bisa.
Kesimpulan
dan Saran
Berdasarkan
hasil observasi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan problematika menulis
permulaan di kelas 1 MI Al Ittihadul ini adalah: (1) belum tahu huruf abjad (2)
belum bisa memegang pensil (3) susah fokus dan ingin terus bermain dan (4)
sering merasa bosan. Banyaknya siswa yang belum bisa menulis ketimbang yang
sudah bisa membuat guru jadi bekerja extra dalam mengajarkan satu persatu ke siswanya.
Hal ini menimbulkan masalah baru yaitu masalah waktu, tidak memungkinkan jika
guru mengajar satu persatu pada saat jam pelajaran sehingga harus mengambil
waktu pada jam istirahat atau di jam pulang sekolah.
Maka
dari itu ada beberapa solusi yang diberikan guru agar kegiatan pembelajaran
tetap lancar terlaksana. Salah satunya dengan memberikan tambahan waktu belajar
pada siswa yang belum bisa menulis, mempunyai modul sendiri yang isinya disesuaikan
dengan kemampuan siswanya dan terus menerus melatih menulis kata kata sampai
semua siswanya bisa menulis dengan lancar.
Saran
saya untuk masalah ini adalah pertama, agar menambah minat siswa dalam menulis
guru bisa menggunakan media yang menarik seperti menggunakan buku berwarna dan
pensil yang berwarna atau ada gambarnya. Kedua, pada saat belajar menulis di
kelas ada baiknya guru tidak terlalu menekan siswa agar cepat bisa yang
nantinya akan membuat siswa justru terbebani dan membuat siswa malas belajar
menulis. Berikan siswa kebebasan dalam belajar, anak tidak harus langsung bisa
dalam menulis biarkan dia bermain dengan alat tulisnya.
Ketiga,
guru bisa belajar menulis sambil bermain games agar anak tidak bosan dan cepat
menerima materi. Bermain games misalnya, anak anak dibagi dalam
kelompok-kelompok dan guru memberikan beberapa gambar hewan atau tumbuhan, lalu
siswa akan menebak gambar dan menuliskan kata tersebut di kertas bersama
kelompoknya. Keempat, dalam mengajarkan menulis permulaan guru bisa memberi
latihan menulis untuk siswanya untuk dikerjakan di rumah, dalam hal ini
kerjasama orangtua dalam membantu sangat dibutuhkan. Di sekolah guru sudah
mengajarkan menulis dan sebaiknya di rumah pun orangtua juga ikut membantu
mengajarkan anaknya.
Daftar
Pustaka
Halimah,
Andi. "Metode Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan di
SD/MI." AULADUNA: Jurnal Pendidikan Dasar Islam 1.2
(2014): 190-200.
Muhyidin,
Asep, Odin Rosidin, and Erwin Salpariansi. "Metode pembelajaran membaca
dan menulis permulaan di kelas awal." JPsd (Jurnal Pendidikan
Sekolah Dasar) 4.1 (2018): 30-42.
Suastika,
Nyoman Suastika. "Problematika Pembelajaran Membaca dan Menulis Permulaan
di Sekolah Dasar." Adi Widya: Jurnal Pendidikan Dasar 3.1
(2019): 57-64.
Ahmad
Susanto. (2014). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta:
Kencana
Karim,
Kodrat Hi. "Problematika pembelajaran menulis permulaan pada siswa sekolah
dasar." PEDAGOGIK 4.1 (2016).
Mulyati,
Yeti. "Pembelajaran membaca dan menulis permulaan." Modul.
Universitas Pendidikan Indonesia 1 (2011): 29-35.

Komentar
Posting Komentar